Alkitab memilih gembala — bukan raja atau jenderal — sebagai metafora utama kepemimpinan umat. Pilihan ini bukan kebetulan.

Gembala mengenal dombanya satu per satu, berjalan di depan menghadapi bahaya, dan mencari yang tersesat sampai ditemukan. Kepemimpinan gembala adalah kepemimpinan relasi, bukan jarak.

Di era organisasi modern, model gembala menantang pemimpin untuk turun dari menara: mengenal nama, mendengar cerita, dan hadir dalam pergumulan orang-orang yang dipimpinnya.