Umum
Mengunjungi Sahabat yang Sakit dengan Bijak!!!
Daniel Ronda · 29 Juli 2026

Mengunjungi orang sakit adalah ungkapan kasih yang penting dalam layanan pastoral. Kita ingin menunjukkan perhatian dan mendoakan mereka. Namun, kasih yang tulus perlu disertai hikmat.
Beberapa tahun yang lalu saya mengalami sakit DBD. Tapi menjadi parah dari yang seharusnya. Trombosit saya terus menurun dan tidak kunjung naik, padahal siklusnya harusnya naik. Banyak rekan dan jemaat datang silih berganti sepanjang hari menjenguk karena mengasihi saya. Saya sangat menghargai perhatian mereka. Namun, tanpa disadari tubuh saya hampir tidak memiliki waktu untuk beristirahat. Setelah dokter mencari penyebabnya, akhirnya beliau melarang semua kunjungan. Dipasang tulisan “Pasien Dilarang Dikunjungi”. Tubuh saya ternyata membutuhkan satu hal yang sederhana yang sangat penting “istirahat total.”
Pengalaman itu mengajarkan saya bahwa orang sakit tidak selalu membutuhkan banyak tamu. Sering kali mereka lebih membutuhkan tidur yang cukup dan kesempatan bagi tubuh untuk memulihkan diri. Di zaman sekarang, perhatian dapat diwujudkan dengan berbagai cara, seperti mengirim pesan singkat, menelepon, melakukan video call jika kondisi pasien memungkinkan (tentu hape dipegang oleh keluarga, pasien jangan dulu main hape😁). Bisa juga mengirim makanan ke RS atau membantu kebutuhan keluarga. Semua itu juga merupakan bentuk kasih.
Alkitab mengajarkan, “Hendaklah kamu saling memperhatikan supaya kamu saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik” (Ibrani 10:24). Memperhatikan bukan berarti wajib hadir secara fisik dengan sesegera mungkin, kecuali gembalanya. Memperhatikan berarti melakukan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh orang yang kita kasihi.
Jadi, jika kita ingin menjenguk orang sakit pertimbangkan beberapa hal:
1. Tanyakan terlebih dahulu kepada keluarga atau pasien apakah dokter mengizinkan menerima kunjungan.
2. Datanglah pada waktu yang tepat sesuai jadwal RS dan jangan terlalu lama di kamar pasien.
3. Hindari rombongan besar yang membuat pasien kelelahan karena dia secara emosional harus menyapa.
4. Berikan penguatan dan doa singkat. Jangan lakukan percakapan yang panjang.
5. Hormati kebutuhan pasien untuk beristirahat.
6. Ada satu nasihat dokter senior: "Jangan tanyakan ke pasien mengapa dia sampai bisa sakit? Karena pasien harus mengulang riwayat sakitnya dari awal. Jika semua pengunjung tanya, maka ini membuat pasien tidak nyaman dan memberikan afirmasi negatif."
7. Tidak perlu merasa ketinggalan memberi perhatian, apalagi kebiasaan masa kini, teman-teman lain habis berkunjung, langsung posting di medsos! Rasanya bagaimana gitu kalau tidak datang!
Kasih yang sejati bukan hanya datang secara fisik, tetapi juga peka kebutuhan pasien. Seringkali bentuk simpati yang terbaik adalah dengan memberi ruang agar orang yang kita kasihi dapat beristirahat dan dipulihkan oleh Tuhan. Kasih yang sejati tahu kapan harus datang, dan kapan harus memberi ruang bagi sahabat kita untuk pulih. *DR