Yesaya 42:1–9 memperkenalkan figur Hamba TUHAN — pemimpin yang dipilih bukan karena kekuatannya, melainkan karena kesediaannya dipimpin oleh Roh.

Hamba itu tidak berteriak di jalan, tidak mematahkan buluh yang patah terkulai. Inilah antitesis dari kepemimpinan yang haus panggung: kelemahlembutan yang justru menegakkan keadilan.

Pemulihan kepemimpinan gereja dimulai ketika para pemimpinnya kembali pada pola Hamba ini — memimpin dengan menopang yang lemah, bukan memanfaatkannya.