PROF. DANIEL RONDA
← Semua tulisan

Kepemimpinan

Pergumulan Kepemimpinan: Ketika Pemimpin yang Baik Bisa Salah

Daniel Ronda · 22 September 2026

Pergumulan Kepemimpinan: Ketika Pemimpin yang Baik Bisa Salah

Pergumulan Kepemimpinan: Ketika Pemimpin yang Baik Bisa Salah

1 Tawarikh 13:1–8

Seorang pemimpin bisa tulus, baik, dan sungguh-sungguh ingin melakukan yang benar, tetapi tetap dapat mengambil keputusan yang keliru. Kisah Stoick the Vast dalam film “How to Train Your Dragon” menggambarkan hal ini dengan kuat. Stoick adalah pemimpin Viking yang sangat mengasihi rakyatnya. Selama bertahun-tahun ia memimpin mereka melawan naga karena ia percaya bahwa naga adalah ancaman yang harus dimusnahkan. Ia yakin bahwa itulah cara terbaik untuk melindungi bangsanya. Namun ketika anaknya, Hiccup, menemukan bahwa naga tidak seperti yang selama ini mereka bayangkan, Stoick menghadapi kenyataan bahwa keyakinan yang selama ini menjadi dasar kepemimpinannya ternyata keliru. Bahkan, karena sulit membuka diri terhadap pandangan yang berbeda, ia hampir mengorbankan anaknya sendiri.

Kisah ini dekat dengan kehidupan kepemimpinan kita. Niat yang baik tidak selalu menjamin bahwa keputusan kita benar. Kita dapat mengasihi gereja, memiliki visi yang besar, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan bahkan mendapat dukungan banyak orang, tetapi tetap membutuhkan kerendahan hati untuk bertanya: Apakah cara saya memimpin sungguh sesuai dengan kehendak Tuhan?

Daud juga mengalami pergumulan serupa. Ia memiliki kerinduan yang baik untuk membawa kembali Tabut Perjanjian ke tengah-tengah Israel. Para pemimpin dan seluruh umat menyetujui rencananya. Namun sesuatu yang baik tetap dapat dilakukan dengan cara yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Karena itu, seorang pemimpin tidak cukup hanya memimpin dengan baik, tetapi harus memimpin dengan benar, berakar dalam firman Tuhan dan terus mencari-Nya dalam doa.

“Pemimpin yang baik bukanlah orang yang tidak pernah salah, tetapi orang yang mau mengakui kesalahannya, meminta maaf, dan kembali melakukan yang benar.” - Jonathan Pokluda

Kepemimpinan bukan tentang selalu benar. Kepemimpinan adalah kesediaan untuk terus belajar, menerima koreksi, mengakui kesalahan, dan membiarkan Tuhan memperbarui cara kita memimpin. Kerendahan hati membuat seorang pemimpin mampu berkata, “Tuhan, jika yang saya yakini ternyata keliru, ubahlah hati dan langkah saya.”

Refleksi: Apakah ada keyakinan, keputusan, atau cara saya memimpin yang selama ini saya anggap benar, tetapi mungkin perlu saya bawa kembali kepada firman Tuhan dan doa?

Doa: Tuhan, berikan aku hati yang rendah hati. Jangan biarkan niat baik membuatku merasa selalu benar. Ajarlah aku berakar dalam firman-Mu, peka terhadap suara-Mu, terbuka terhadap koreksi, dan berani mengubah langkah ketika Engkau menunjukkan jalan yang lebih benar. Amin.

(Renungan dari Living Life, September 2026, hal 136-139) dipercakapkan dalam Ibadah Doa Dosen dan Staf STFT Jaffray - 22/9/2026

Bagikan tulisan ini